Nevinda
Perkenalka
namaku Parjo, aku punya cerita
perjalanan panjang dari arti kata cinta yang sulit dimengerti. Di mana
bermulanya semuanya berjalan begitu saja tanpa aku bisa kendalikan karena ini
adalah awal sekaligus akhir dari perjalanan hidup dan cinta. Perkenalan yang
singkat mampu membuatku jatuh dalam lingkaran persoalan yang aku sendiri tak
mengerti kenapa aku bisa masuk kedalamnya. Namanya Nevinda, dia memberikan
semua yang aku butuhkan dari mulai cinta, kasih sayang serta cita-cita untuk
bisa bertahan hidup lebih lama. Di mulai dari bangku sekolah aku hanya bisa
memandangnya dari kejauhan dan tak pernah memikirkan untuk memilikinya utuh
tanpa ada syarat. Maklum Nevinda berasal dari keluarga yang bergaris menengah
keatas walupun enggak kaya banget tapi dia bergaul dengan kalangan orang dengan
anak yang dikata berduit sedangkan aku
hanya seorang anak buruh serabutan yang pekerjaanya tidak jelas. Bahkan
disekolah aku bukanlah remaja yang berprestasi, mungkin untuk ukuranku aku
siswa yang biasa saja.
Suatu ketika saat itu
hujan aku melihat dikejauhan nampak Nevinda sedang menunggu jemputan ayahnya
yang bekerja sebagai seorang polisi. Aku beranikan diri untuk menghampirinya kemudian
agak sedikit gugup aku bertanya padanya,
“Vin,,?;panggilannya
disekolah
“Iya,,ada apa?
;jawabnya
Hanya dengan dia
memalingkan wajah seakan membuat jantungku berdetak lebih cepat dari jarum jam.
Kemudian aku agak sedikit basa-basi dengan memberikan pertanyaan bodoh,
“Kok, blm pulang ?
;kataku
“Iya nie, kayaknya
ayahku gak bisa jemput, terpaksa deh harus naik angkutan umum tapi kondisi lagi
ujan,,Eh,, maaf km anak kelas X apa ya ? Nama kamu siapa ? kita kan belum
kenalan,,;Kata Vina
Aku bigung harus
menjawab apa, karena saat Nevida bertanya padaku aku enggak konsentrasi sama
sekali karena aku sangat gugup.
“eh..iya vin, Kenalin
Namaku Parjo, aku anak kelas X.3,,
Saat aku jabat
tangannya hatiku seakan bahagia entah apa yang aku bayangkan aku bisa menjabat
tangan seorang gadis yang sebelumnya hanya bisa aku lihat melalui kacamataku
yang tebal ini.
“Aku Nevinda, salam
kenal ya,,”
“Iya vin,,;Sahutku
Di keadaan hujan itu
aku dan vinda berbicang-bincang membahas kejadian yang ada disekolah dari mulai
hal serius sampai yang membuat kita tertawa terbahak-bahak. Hujan sudah mulai
reda, nevinda dan aku akhirnya mengakhiri perbincangan. Sejak saat itu aku dan
Nevinda sering jalan berdua entah sekedar makan ataupun mencari buku pelajaran
yang kami perlukan.
Keadaan
berjalan dua bulan aku dan Nevinda belum memiliki hubungan apapun kami hanya
sekedar teman yang memiliki kesamaan pemikiran. Hingga saat itu tiba, aku sudah
tidak bisa membendung rasa cintaku pada Nevinda. Setiap malam aku selalu
berfikir kapan aku bisa menyatakan perasaan ini apakah aku biarkan menggantung
kemudian terus-turan menekan batinku. Akhirnya aku putuskan untuk menyatakan
dengan resiko apapun yang akan aku terima.
Tepat
saat itu bula febuary satu hari menjelang valentine aku dari rumah sudah
mempersiapkan bunga bertuliskan “love” yang rencanya akan aku berikan sambil menyatakan
cinta. Aku sms vinda pagi itu tepat jam 05.30 Wib untuk berangkatnya bersama
seperti biasa tapi tidak satupun smsku dibalasnya. Kemudian aku coba telfon
telfonya malah enggak aktif. Aku kemudian berfikir kalo vinda lupa mencharger
Hpnya. Aku berangkat sendirian tanpa Nevinda kesekolah enggak seperti biasanya.
Pagi pukul 06.45 Wib aku melihat kearah kelas Vinda namun aku tidak melihatnya
yang biasanya dia selalu menyirami bunga didepan kelasnya.
Pelajaranpun berlalu
hingga tepat istirahat aku bertanya pada temannya yang bernama asri.
“Asri ?’;panggilku
“Iya Jo , ada apa ?
;kata asri
“Nevinda kemana ya? Kok
enggak kelihatan ?;kataku.
“Maaf Jo aku gak berani
kasih tau kamu ?;bilang asri.
“Knp ? Ada apa ? ;aku
semakin penasaran.
“Nevinda sudah gak sekolah
disini jo?”dia pindah keluar jawa, ikut ayahnya yang dipindah tugas!
Aku hanya bisa diam
sambil merasakan bahwa aku sudah kehilangan bagian dari detak jatunku, aku
masih mencoba berfikir bahwa perkataan asri itu mimpi.
(Bersambung).....
No comments:
Post a Comment